Memoar Kalbu
Oleh: Musaafiroh El Uluum Sebelumnya aku merasa ada. Bersimpuh di antara riuh kalbu yang berbunga dan senyum merekah. Tahun-tahun itu begitu cepat berlalu. Dulu aku yang haru mendengar kesejukan dawuhmu, justru sekarang kelu menahan rindu. Dulu aku yang selalu berlinangan harsa, menyaksikan sayap-sayap cintamu melangkah penuh irama, kini meranggas oleh kesepian yang terus meretas. Entah sampai kapan. Murabbi, daku menjelma pungguk yang merindukan rembulan. Engkau bukan hanya kekasih, engkau pula terkasih. Bukan hanya pendidik, tetapi rumah kedua setelah walid. Bahkan setiap temu dengan para ahlul bait, nama-nama santrimu merangkai sebuah bait. Murabbi, mohon jelaskan pada ananda, pada kalbu yang terus meronta. Mohon katakanlah bahwa ia akan baik-baik saja. Dua tahun bukanlah hal yang mudah, untuk kami berpisah, darimu, dari ketulusanmu, dan dari pancaran ketawadhuanmu. Takdir menentukan bahwa masa sebelum dua tahun itu harus segera diakhiri. Mengapa? Tuhan telah memberikan sebuah ujian...