Memoar Kalbu
Oleh: Musaafiroh El Uluum
Sebelumnya aku merasa ada. Bersimpuh di antara riuh kalbu yang berbunga dan senyum merekah.
Tahun-tahun itu begitu cepat berlalu.
Dulu aku yang haru mendengar kesejukan dawuhmu, justru sekarang kelu menahan rindu. Dulu aku yang selalu berlinangan harsa, menyaksikan sayap-sayap cintamu melangkah penuh irama, kini meranggas oleh kesepian yang terus meretas.
Entah sampai kapan.
Murabbi,
daku menjelma pungguk yang merindukan rembulan. Engkau bukan hanya kekasih, engkau pula terkasih. Bukan hanya pendidik, tetapi rumah kedua setelah walid. Bahkan setiap temu dengan para ahlul bait, nama-nama santrimu merangkai sebuah bait.
Murabbi,
mohon jelaskan pada ananda, pada kalbu yang terus meronta. Mohon katakanlah bahwa ia akan baik-baik saja.
Dua tahun bukanlah hal yang mudah, untuk kami berpisah, darimu, dari ketulusanmu, dan dari pancaran ketawadhuanmu.
Takdir menentukan bahwa masa sebelum dua tahun itu harus segera diakhiri.
Mengapa?
Tuhan telah memberikan sebuah ujian, sehingga kami hanya bisa menatapmu dari balik layar. Kami tak lagi dapat mengalap berkah, dari wangi buah bibirmu, kecupan doa di gelas minummu, bahkan jejak tatapan kasih yang baru beberapa saat lalu menguarkan syahdu yang candu.
Jujur saja, tubuh ini ringkih, atma ini perih, ketika jarak terpaksa harus dipilih. Namun, setiap gelabah berkali-kali menyurutkan langkah, wejanganmu seolah menggema, "Kokohkan tekadmu, Nak. Kau berikrar di hadapan Ilahi, kepada-Nya pula kerja kerasmu kembali."
Sungguh, beribu mutiara samudra takkan sanggup mengimbangi satu pun hikmahmu. Rasanya sungguh malu jika doa terapal tanpa menyebut namamu. Maafkan ananda, hanya dapat menitipkan syukur pada Pemilik Jiwamu. Jiwa yang membuat hati selalu baru, sebab ridho senantiasa memayungi setiap harap dan pintaku.
Sugeng ambal warso, Kyai. Selamat ulang tahun. Barakallah fikum wa fi umurikum, Ya Syaikhi Masbuhin Faqih.
Ditulis pada detik-detik menjelang milad Kyai.
Komentar
Posting Komentar