Kartini: Pribumiwati
Perempuan dan air mata: Google. Oleh: Musaafiroh El Uluum Tiada pamrih dalam letih pekerjaan ini, karena tak mungkin ada penanding yang lebih baik dari seonggok jiwa kecuali harsa dan selaksa doa. Tiada kata pasrah dalam kalapnya bangsa-bangsa imperialis itu, yang menduduki lalu mengambil alih kuasa atas nyawa atau mati. Satu harapan yang takkan lekang. Be bas, iya. Bukanlah ingin menjadi pengecut dengan bersem bunyi dari mata-mata pengkhianat, melainkan menyatukan rasa, mengu bur amarah, lalu menyusun rencana se baik- baiknya untuk mem ba bat ha bis serdadu-serdadu laknat di balik titah penjilat. Aku puan, iya. Namun asaku sekokoh batu karang. Cintaku sedalam lautan, pada bangsa yang tak pernah mengecap perkenalan. Aku masih beruntung, hidup dalam tatanan agung. Mengenyam pengetahuan bersama putra-putri musuh negeri, mem buka peluang untukku mengangkat derita. Wanita-wanita itu. Ah, aku tak kuasa. Berkali-kali terhina. Nyawa bukan lagi m...