Kartini: Pribumiwati

 

Perempuan dan air mata: Google.

Oleh: Musaafiroh El Uluum


Tiada pamrih dalam letih pekerjaan ini, karena tak mungkin ada penanding yang lebih baik dari seonggok jiwa kecuali harsa dan selaksa doa.

Tiada kata pasrah dalam kalapnya bangsa-bangsa imperialis itu, yang menduduki lalu mengambil alih kuasa atas nyawa atau mati.

Satu harapan yang takkan lekang. Bebas, iya. Bukanlah ingin menjadi pengecut dengan bersembunyi dari mata-mata pengkhianat, melainkan menyatukan rasa, mengubur amarah, lalu menyusun rencana sebaik-baiknya untuk membabat habis serdadu-serdadu laknat di balik titah penjilat.

Aku puan, iya. Namun asaku sekokoh batu karang. Cintaku sedalam lautan, pada bangsa yang tak pernah mengecap perkenalan.

Aku masih beruntung, hidup dalam tatanan agung. Mengenyam pengetahuan bersama putra-putri musuh negeri, membuka peluang untukku mengangkat derita.

Wanita-wanita itu. Ah, aku tak kuasa. Berkali-kali terhina. Nyawa bukan lagi milik. Raga diperbudak nafsu-nafsu bejat. Tiada harapan, tiada kehidupan. Hanyalah neraka setiap bangun dan terpejam.

Air mata, tetaplah selimut ternyaman kala tiada telinga yang mampu meredam luka. Ah, wanita. Pribumiwati. Kau tak bodoh. Namun keluguan serta kepolosanmu menggertakku bergegas menggenggam emansipasi.

Kota Santri, Kemerdekaan untuk Negeri, 2021

Keyword: Air mata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terlena

Adorasi yang Mana?

Harsa(mu)