Mengenal Senandika
![]() |
| Source: PNG Download.id. |
Senandika dalam KBBI diartikan sebagai wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca maupun pendengar.
Lebih gampangnya, menurut prespektif saya, Senandika adalah prolog, penyampaian dari pergulatan perasaan penulis entah itu sedih, perih, terluka, bahagia maupun suka.
Senandika merupakan prosa baru yang ditulis dalam bentuk paragraf. Jadi, ada perbedaan antara Senandika dan puisi. Namun, bukan berarti Senandika adalah puisi. Sebab ia berbentuk paragraf dan bukan bait. Senandika juga tidak sepadat puisi. Ia cenderung bebas dan tak terikat.
Berikut Senandika pertama saya:
Sisa Kenangan
Oleh: Musaafiroh El Uluum
Pagi ini, kucoba merangkai kata untuk menemui dirimu di seberang sana. Saat helaan napas tak lagi habis-habisnya tersenyum. Dalam tawaku kau terus membayangi apapun benda yang terlihat. Hingga pening aku dibikin ulahmu. Dari tadi tanganku belum saja selesai. Terus berkutat pada tali sepatu merah muda yang telah terpancang pada kedua kakiku. Ah, geramnya aku. Mengapa tak kunjung selesai.
Mendadak awan berubah petang. Memayungi bumi dari sinar sang surya. Kepalaku tak berhenti menengadah. Menatap cahaya yang tak lagi cerah. Kulanjutkan langkahku menapaki jalan setapak. Penuh asa dan harap yang menyeruak. Melewati sesemakan rimbun tanpa jeda jaraknya. kumantapkan hati untuk terus menyongsong cita. Demi hasrat untuk bersua denganmu.
Teringat saat kecil dulu, kugandeng tanganmu yang halus itu. Menyapa ayam-ayam tetangga dan kucing liar yang suka tidur di bawah pohon belimbing. Kuingat pula saat dirimu menangis karena tak sengaja tangan jahatku ini mendorongmu, hingga jatuh dari atas sepeda. Kau pun mau mereda asal kubelikan es kelapa muda di simpang jalan sana.
Di jalan ini, kita tertawa, bermain bersama, dan mengadu ilalang yang bercabang bintilnya. Namun, tempat yang dulu kita singgahi telah merimba. Dipenuhi belukar dan duri tajam.
Di kejauhan sana, kudengar lonceng kereta api yang nyaring bunyinya. Memekakkan telinga memang, tetapi langkahku terus mengayun. Tak peduli hawa yang kian mendingin. Angin terus mendesau hebat. Kibarkan jilbab orange yang menempel di kepalaku. Tak hanya itu, ia juga menerbangkan dedaunan kering hingga melayang-layang di sekitarku. Langit pun bergema. Tanda bahwa hujan akan segera turun dari sana. Kini, aku tak lagi menengok awan. Melainkan terus berlari, agar sampai pada tujuanku.
Gemerincing lonceng sudah yang ketiga kalinya. Benda berbadan panjang itu telah menggerakkan rodanya. Berjalan pelan lalu cepat di atas rel. Meninggalkanku dengan sepucuk harapan yang menggelayut. Menyisakan kenangan yang pernah kita lalu bersama. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengucap perpisahan pada sahabat yang selalu kurindukan.
Sekian ... Semoga Bermanfaat ☺💙

Komentar
Posting Komentar